Muhammad Ali In Memory

 

Muhammad Ali in memory

Advertisements

57. Dosa , Di antara Keadilan Dan KurniaNya.

Click To Download Al-Hikam English Version PDF

57. There is no minor sin when His justice confronts you; and there is no major sin when His grace confronts you.

” 57. Tidak ada dosa kecil jika Allah menghadapmu dengan keadilanNya, dan tiada ertinya dosa besar jika Allah menghadapmu dengan kurniaNya.”

Penjelasan :-

Sh Ibn ‘Atha’illah mengingatkan akan luasnya rahmat tuhan. Bersabda Rasulullah SAW – Tidak ada ertinya dosa besar jika disertai istighfar minta ampun dan tidak dianggap kecil sesuatu dosa jika dilakukan terus menerus.

Yahya bin Mu’az  dalam berdoa ia berkata :- Tuhanku, jika Engkau kasih kepadaku, engkau ampunkan dosaku. Tetapi jika Engkau murka kepadaku, tidak Engkau terima amal kebaikanku.

***

56. Dosa Dan Prasangka Kepada Tuhan

Madina

56. Let no sin reach such proportion in your eyes that it cuts you off from having a good opinion of Allah, for, indeed, whoever knows his Lord considers his sin as paltry next to His generosity.

” 56. Jangan sampai terasa bagimu teramat besarnya suatu dosa itu, hingga dapat merintangi engkau dari berbaik sangka terhadap Allah Ta’ala. Sebab siapa yang benar-benar mengenal Allah Ta’ala, maka akan menganggap kecil dosanya itu dibandingkan dengan keluasan kemurahan Allah.”

Penjelasan :-

Sh Ibn ‘Atha’illah menegaskan bahwa merasa besarnya sesuatu dosa itu baik jika menimbulkan rasa akan bertaubat dan niat tidak akan mengulangi untuk selama-lamanya. Tetapi jika merasa besarnya dosa itu akan menyebabkan putus dari rahmat Allah, merasa seolah-olah  rahmat dan maaf Allah tidak akan memaafkannya maka perasaan yang demikian lebih bahaya baginya dari dosa yang telah dilakukan sebab putus harapan dari rahmat Allah itu dosa besar dan itu perasaan orang kafir semata-mata.

Nabi (S.A.W) ada bersabda : Demi Allah yang jiwaku ada ditanganNya andaikan kamu tidak berbuat dosa nescaya Allah mematikan kamu dan mendatangkan satu kaum yang berbuat dosa lalu istighfar minta ampun lalu diampunkan bagi mereka itu.

Sebab sikap sombong menjauhkan hamba daripadanya Rabbnya. Sedangkan perbuatan dosa menarik hamba untuk mendekat kepada Rabbnya.

***

Madina

” 55. A sign of the heart’s death is the absence of sadness over the acts of obedience that you have neglected and the abadonement of regret over the mistakes that you have made.”

“55. Sebahagian daripada tanda matinya hati iaitu jika tidak merasa sedih (susah hati) kerana tertingalnya sesuatu amal perbuatan baik, juga tidak merasa menyesal jika terjadi berbuat suatu pelanggaran (dosa).”

***

 

54. Jangan Tinggalkan Dzikir Dalam Keadaan Apa pun.

Madina2rnd

54. Do not abandon the invocation because you do not feel the Presence of Allah therein. For your forgetfulness of the invocation of Him is worse than your forgetfulness in the invocation of Him. Perhaps He will take you from an invocation with forgetfulness to one with vigilance, and from one with Presence of Allah to one wherein everything but the Invoked is absent. “And that is not difficult for Allah.”

 

” 54. Jangan meninggalkan dzikir, kerana engkau belum selalu ingat kepada Allah diwaktu berdzikir. Sebab kelalaianmu terhadap Allah ketika tidak berdzikir lebih berbahaya daripada kelalaianmu terhadap Allah ketika kamu berdzikir. Semoga Allah menaikkan darjatmu daripada berdzikir dengan kelalaian kepada dzikir yang disertai ingat. Daripada dzikir yang disertai ingat kepada dzikir yang disertai rasa hadir. Dan daripada dzikir yang disertai rasa hadir kepada dzikir hingga lupa terhadap segala sesuatu selain Allah. Dan yang demikian itu bagi Allah bukanlah sukar.”

Penjelasan :-

Sh Ibn ‘Atha’illah berpesan agar sentiasa berdzikir. Memindah dari satu tingkat ke lain tingkat/darjat dzikir adalah satu-satunya jalan yang terdekat menuju kepada Allah.

Abu Qassim al-Qushairy berkata dzikir itu simbol kewalian dan pelita penerang untuk sampai, dan tanda sihatnya permulaan dan menunjukkan jernih akhir puncaknya. Tiada suatu amal yang menyamai dzikir sebab segala amal perbuatan itu ditujukan untuk berdzikir. Maka dzikir itu bagaikan jiwa dari segala amal. Sedang kelebihan dzikir dan keutamaannya tidak dapat dibatasi. Firman Allah :- Oleh itu ingatlah kamu kepadaKu nescaya aku membalasmu dengan kebaikan : dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan jangan kamu kufur (akan nikmat Ku). Al Baqarah ayat 152.

Dalam hadis qudsi Allah berfirman :- Aku selalu mengikuti sangkaan hambaKu terhadapKu dan Aku selalu menyertainya ketika ia berdzikir kepadaKu. Jika ia berdzikir sendirian dalam hati peribadinya, Aku pun berdzikir padanya dalam diriKu. Dan jika ia berdzikir padaKu dihadapan umum, Aku pun berdzikir kepadanya dimuka umum yang lebih baik dari golongannya. Dan bila ia mendekatiKu se jengkal, Aku mendekat kepadanya se hasta. Jika ia mendekat kepadaKu se hasta, aku mendekat kepadanya se depa. Dan bila ia datang kepadaKu berjalan, Aku datang kepadanya berjalan cepat.

Abdullah bin Abbas R.A berkata : Tiada satu kewajipan yang diwajibkan oleh Allah kepada hambaNya melainkan ada batas-batasnya. Kemudian, bagi orang yang uzur dimaafkan bila tidak dapat melakukannya. Kecuali dzikir – maka tidak ada batas dan tidak ada uzur yang dapat diterima untuk tidak berdzikir, kecuali jika berubah akal (gila).

Hai sekelian orang yang beriman, berdzikirlah kamu kepada Allah sebanyak banyak dzikir. Dan bertasbihlah mengagungkan Allah pada pagi dan petang. Iaitu pada pagi, siang, senja, malam, di darat, di laut, di udara, musafir dan tidak musafir – iaitu pada segala tempat dan masa, bagi yang kaya, miskin, sihat, sakit, terang terangan, sembunyi, dengan lisan atau hati dan pada segala hal dan keadaan.

***

53. Amal, Ahwal dan Maqam

 

Madina2rnd

53. Good works are the results of good states. Good states arise from the stations wherein those having spiritual realization abide.

 

“53. Baiknya amal merupakan hasil dari baiknya ahwal (keadaan spiritual). Sedangkan baiknya ahwal terbit setelah menggapai tahap kemapanan spiritual (maqam-maqam).”

Penjelasan :-

Sh Ibn ‘Atha’illah menitik beratkan tahap kemantapan spiritual di mana amal yang baik itu hanya yang diterima oleh tuhan dan itu pasti kerana baik dalam segi keikhlasan kepada Allah. Dan tidak mungkin ikhlas kecuali jika ia mengerti benar-benar kedudukan dirinya terhadap tuhannya.

Abu Hamid al-Ghazali berkata setiap tingkat keyakinan itu mempunyai ilmu, hal dan amal perbuatan :

Ilmul yakin :  keyakinan yang didapati dari pengertian teori pelajaran.

Ainul yakin : keyakinan yang didapati dari fakta kenyataan yang dibuktikan.

Haqqul yakin : keyakinan yang benar-benar dari Allah, tidak dapat diragukan sedikit pun.

***

52. Nilai Amal.

Madina2rnd

52. No deed arising from a renouncing heart is small, and no deed arising from an avaricious heart is fruitful.

 

” 52. Amal yang berasal dari hati yang zuhud tidak dapat dianggap sedikit, manakala amal yang berasal dari hati yang penuh ketamakan tidak dapat dianggap banyak.”

Penjelasan :-

Sh Ibn ‘Atha’illah berpesan bahwa suatu amalan akan hanya mempunyai nilai di sisi Allah SWT apabila dilandasi dengan niat yang tulus.

Seorang saleh mengeluh kepada Al Quroshi bahwa ia telah berbuat berbagai amal kebaikan tetapi belum dapat merasakan kelazatan amal kebaikan itu dalam hatinya. Jawab Al Quroshi :- kerana engkau masih memelihara puteri iblis iaitu kesenangan dunia – dan lazimnya seorang ayah itu selalu berziarah kepada puterinya.

***

51. Hati – Hati Memilih Sahabat

51. Do not keep company with anyone whose state does not inspire you and whose speech does not lead you to Allah. You might be in a bad state; then your associating with one who is in a worse state makes you see virtue in yourself.

51. Janganlah berkawankan seseorang yang tidak membangkitkan semangat taat kepada Allah oleh amal kelakuannya, dan tidak memimpin engkau ke jalan Allah oleh kata-katanya.

Penjelasan :-

Sh Ibn ‘Atha’illah berpesan bahwa sikap sahabat mampu mempengaruhi dan mengawal kita menuju keredhaan Allah. Namun dia juga boleh membawa kita menuju jurang kehancuran dan sia-sia serta murkaNya.

Imam Al-Tsauri berkata – Siapa yang bergaul dengan orang tertentu harus akan terikut mereka, dan siapa mengikut mereka harus bermuka-muka pada mereka, dan siapa bermuka-muka kepada mereka tergolong sebagai mereka – maka binasa seperti mereka pula. Berhati-hatilah jangan berkawan dengan tiga macam manusia : 1. pegawai pemerintah yang kejam. 2. Ahli qura yang bermuka-muka. 3. Orang tasawwuf yang bodoh tentang hakikat tasawwuf.

Sh Ibn ‘Atha’illah berpesan lagi :-” Boleh jadi engkau berbuat kekeliruan (dosa), tetapi tampak olehmu sebagai kebaikan oleh kerana engkau bersahabat dengan orang yang tingkah lakunya jauh lebih buruk darimu.”

Bersahabat dengan yang lebih rendah budi/iman itu sangat bahaya sebab persahabatan itu pengaruh mempengaruhi, percaya mempercayai sehingga dengan demikian sukar sekali  untuk dapat melihat atau membetulkan kesalahan sahabat yang kita sayang. Bahkan untuk kesetiaan sahabat akan membela kita dalam kesalahan dan dosa kekeliruan itu. Sedangkan seseorang tidak dapat membetulkan diri sendiri kecuali dengan kacamata orang lain. Tetapi jika justru kacamata orang lain itu pula mengabui kita, maka bahayalah yang pasti menimpa pada kita.

Maka berhati-hatilah dalam memilih siapa yang akan anda jadikan sebagai sahabat.

***

50. Pergilah Menuju Kepada Pencipta Alam.

Madina

50. Travel not from creature to creature, otherwise you will be like a donkey at the mill: roundabout the turns, his goal the same as his departure. Rather, go from creatures to Creator : “And that the final end is unto thy Lord.”

” 50. Jangan engkau berpindah dari satu alam ke alam yang lain kerana itu akan bererti sama seperti himar (keldai) yang berputar di sekitar penggilingan. Keldai itu berjalan menuju ke satu tempat tujuan :- tiba-tiba itu pula tempat yang ia mula-mula berjalan daripadanya. Tetapi hendaklah engkau pergi dari semua alam itu menuju kepada Pencipta Alam. Sesunguhnya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan. “

Dalam menjalani proses peningkatan iman dan taqwa, barangkali akan engkau lalui tahapan yang menggiringmu menuju ke satu keadaan/tempat yang tampilnya berbeza. Di sini Sh Ibn ‘Atha’illah berpesan agar berhati-hati jangan berpindah dari syirik yang terang ke alam syirik yang samar. Amal kebaikanmu mungkin dinodai dengan riya’ atau sum’ah (mengharap pujian orang) – tidak bakal diterima oleh Allah! Dan apabila telah bersih dari semua itu ada kalanya beramal kerana terdorong oleh kerana menginginkan kedudukan atau kekayaan, atau kekeramatan dunia atau akhirat – sebab itu masih termasuk alam hawa nafsu – belum mencapai tujuan ikhlas yang bererti bersih dari segala tujuan selain melulu kepada Allah.

Kerana itu, selama berpindah dari alam ke alam tidak ada bezanya daripada keldai yang berputar di sekitar penggilingan, tetapi seharusnya sekali berangkat dari suatu alam langsung menuju Pencipta alam. Kerana itu pencinta Allah menyebutkan – Semua yang ada padamu dari berbagai nikmat kesenangan itu langsung dari karunia Allah kepadamu. Manakah kiranya yang lebih besar berharga nilainya – apakah pemberianNya ataukah Yang Memberi? Sesunguhnya kepada Tuhanmu itulah puncak segala tujuan.

***

49. Buta Mata Hati

Madina2rnd

49. How astonishing is he who flees from what is inescapable and searches for what is evanescent! “For surely it is not the eyes that are blind, but blind are the hearts which are in the breast.” [Quran 22:46]

” 49. Keajaiban yang sangat menghairankan terhadap orang yang lari dari apa yang sangat diperlukan dan tidak dapat lepas daripadanya, – dan berusaha mencari apa yang tidak akan kekal padanya. Sesungguhnya bukanlah mata kepala yang buta, tetapi yang buta itu ialah mata hati yang ada di dalam dada. “

Sh Ibn ‘Atha’illah berpesan bahwa tindakan menjauhi Allah Ta’ala merupakan tindakan bodoh yang sangat merugikan diri sendiri sebab semua makhluk tidak mungkin berlepas diri terhadap keperluan terhadapNya.

Seseorang yang melarikan diri dari panggilan tuhan untuk berbuat ibadat kerana ingin memuaskan hawa nafsu syahwatnya, nyata sebagai tanda buta mata hatinya sebab dia telah mengutamakan bayangan daripada hakikat, mengutamakan yang sementara dan meninggalkan yang kekal abadi, mengutamakan yang rusak daripada yang tetap kekal utuh selamanya.

***